Ini blog kedua yang saya miliki, setelah sekian lama vakum setelah mulai bekerja. Sejujurnya saya bingung akan jadi apa blog ini, mengarah kemana? Lebih mudah menulis hal-hal yang dekat dengan kita. Berhubung saya ibu-ibu, saya dekatnya sama acara masak-memasak, karena saya perempuan biasa, saya juga tertarik dengan make up. Tapi itu nantilah saya bahas, saat ini saya ingin membahas sesuatu yang dekat dengan pekerjaan saya.
Karena saya dan suami bekerja di bidang perbankan, kami punya banyak teman hampir di semua Bank yang menawarkan fasilitas KPR, jadi kami bisa membandingkan fasilitas KPR yang ditawarkan.
Membeli rumah susah-susah gampang yah... Susah kalau budgetnya terbatas, gampang kalau budgetnya gede. Tinggal klik-klik cari perumahan di internet atau dari agen-agen properti. Kalau untuk pasangan baru menikah seperti kami, yang tabungannya udah terkuras untuk biaya pernikahan, sehingga budgetnya minim banget, mencari rumah yang hendak dibeli butuh perjuangan.
Apa yang saya tulis disini bukan iklan atau promosi. Yang saya tulis semata-mata pendapat dan pengalaman saya bersama suami membeli dan membangun rumah. Pendapat atau pengalaman orang lain bisa saja berbeda.
Membeli atau Membangun Rumah?
Ketika hendak memiliki rumah, terkadang kita berpikir, apakah kita akan membeli rumah jadi atau membangun rumah sendiri. Kalau menurut saya, jika budget yang dimiliki sedikit, ada baiknya membeli rumah jadi dalam bentuk perumahan.
Membeli rumah dalam bentuk perumahan, lebih mudah karena pihak pengembang biasanya bekerjasama dengan Bank, pengurusan administrasi bisa mereka bantu. Kita hanya memilih perumahan dengan harga sesuai budget, memilih jangka waktu kredit dengan angsuran sesuai kemampuan. Jika kredit disetujui, Kita tinggal menyetor pembayaran Down Payment, Tanda tangan akad kredit. Terus tinggal deh di rumah baru kita.
Membangun rumah juga hal yang bagus, kita bisa merancang sendiri rumah impian dan memilih bahan bangunan dengan kualitas premium, tetapi kita harus punya dana ekstra. Memang ada fasilitas KPR yang bisa kita ajukan jika hendak membangun rumah. Tapi gitu yah, persyaratannya ngurus sendiri. Pencairan dananya pun bertahap sesuai dengan persentase penyelesaian rumah. Kalau dananya belum dicairkan seluruhnya terus pekerja bangunannya tiba-tiba minta panjar ongkos kerja, bisa berabe kan.
Memilih Fasilitas KPR
Pilihlah fasilitas KPR subsidi. Fasilitas KPR ini diberikan dengan bunga rendah, tetapi hanya diperuntukkan untuk golongan berpenghasilan dibawah Rp. 4jt, seperti saya dan suami.
KPR subsidi hanya dibebani bunga 0 ,4% lebih rendah dibanding KPR yang biasanya memiliki bunga 0,5%-0,7%. Selain itu, perumahan bersubsidi hanya dikenai pph 1%, sehingga biaya yag dikeluarkan lebih murah dibanding membeli rumah biasa yang dikenai pph 2,5%. Harga perumahan paling mahalpun cuma Rp.122.500.000,- (di Propinsi saya).
Pembayaran Down payment perumahan bersubsidi juga diberi keringanan, cukup 10% dari harga rumah, bahkan ada yang cuma 5%, jika membeli rumah diluar perumahan bersubsidi, DP yang harus dibayarkan sejumlah 30% dari harga rumah (sesuai ketentuan BI).
Saya sendiri tidak memilih perumahan subsidi. Meskipun murah di kota saya tempatnya jauh dari pusat kota, kurang strategis. Mungkin karena harga tanah di daerah tersebut sesuai kriteria perumahan subsidi. Saya memilih perumahan yang di kompleks nya ada TK, SD, dan SMP, Ada Puskesmas, hanya 15 menit dari kantor, 10 menit dari Rumah sakit dan Mall.
Untuk Bank yang menyediakan fasilitas kredit, saya rasa BTN masih juaranya. Selain karena link yang luas karena bekerjasama dengan banyak developer, dari segi persyaratan Bank yang satu ini juga banyak memberi kemudahan, misalnya untuk karyawan seperti saya, dapat dilayani meskipun baru setahun berstatus karyawan tetap. Selain itu jangka waktu yang diberikan cukup lama bisa sampai 15 bahkan 20 tahun, sehingga angsuran menjadi lebih kecil.
Bank BTN juga merupakan Bank yang memberikan penawaran bunga terendah kepada saya yaitu 0,5% sama seperti Bank Muamalat. Sayangnya di Bank Muamalat saya tidak bisa dilayani karena baru setahun jadi Karyawan tetap. Selama ini cuman jadi outsourcing... Hiks.. Hiks...
Yang tidak saya sukai dari Bank BTN adalah pelayanannya. Marketingnya kurang responsive. Mungkin karena nasabahnya banyak yah jadinya sibuk. Berbeda dengan Bank Lain, yang marketingnya malah ngejar-ngejar saya, menghubungi saya setiap hari, semangat memprospek saya. Oleh marketing Bank BTN saya benar-benar diabaikan. Berhubung marketing Bank nya cuek banget sama saya. Okay, Fix! Saya cari Bank lain. Mungkin yang pelayananya gini cuma di Kota saya saja yah.
Akhirnya kami nyangkutnya di BRI, suku bunga yang ditawarkan 0,6%, kami mengajukan kredit ke Beberapa Bank, karena BRI yang paling cepat proses pencariannya. Ya sudah...! Pengajuan KPR nya atas nama suami, karena permohonan KPR saya yang baru setahun jadi karyawan tetap ini sama sekali tidak ada yang bersedia memproses.
Tips Mengajukan KPR :
Survey bunga dan angsuran, pilih yang terendah.
Hitung kemampuan bayar, angsuran KPR hanya diberikan 30%-40% dari jumlah penghasilan bersih. Teman saya di kantor gajinya Rp.3jt/bulan, pasangannya tidak memiliki penghasilan, 40% dari gajinya sebesar Rp.1,2jt. Dia hanya bisa membeli rumah subsidi seharga Rp.120jt setelah DP, karena angsuran bulanannya tidak boleh melebihi Rp.1,2jt.
Pilihlah perumahan yang harganya sesuai dengan batas maksimum angsuran.
Dahulukan KPR dibandingkan kredit lain, karena Ratio angsuran KPR dari penghasilan bersih cukup rendah, semakin banyak cicilan semakin kecil penghasilan bersih. Sehingga plafon yang dapat diberikan semakin sedikit. Silahkan mencicil yang lain jika KPR telah disetujui.
Masukkan pengajuan kredit ke beberapa Bank, jika ditolak satu Bank, masih terbuka kesempatan di Bank lain.
Perhatikan BI Checking, cicilan apapun itu, Smartphone, Televisi, Sofa, Kartu kredit. Jika menunggak akan meninggalkan jejak di BI Checking. Jadi bayarlah angsuran anda tepat pada waktunya.
Demikian tips dari saya. Semoga bermanfaat.
Terima Kasih
Sabtu, 22 Oktober 2016
Selasa, 15 Maret 2016
Gonna be Bridezilla, Ingin pesta outdoor
Menyusun rencana pernikahan itu rumit menurutku, semakin dekat semakin banyak pendapat yang mesti didengar. Terutama dari keluarga Cami, secara mereka keluarga besar, kalo tante dan om aku mah anteng-anteng aja.
Calon adik ipar udah wanti-wanti dari awal, "kudu sabar ya mbak". Keinginanku untuk menggelar pesta outdoor di restoran tepi pantai ditentang habis-habisan, alasannya jauh... Off course... pastilah jauh. Kalo ditengah kota mana ada pantai yang masih cantik? Padahal menurutku pesta outdoor lebih privat, lebih santai, kekeluargaan lebih terjalin, lebih hemat sewa gedung dan dekorasi.
Ya sabarlah... terpaksa melakoni pesta pernikahan yang mainstream. Di dalam gedung, duduk berdiri nyalami tamu. Lenyaplah impianku untuk nikah di tepi laut yang indah ini.
Yang atap merah itu restonya, anjungan ini sengaja dibuat menuju ke laut. Lautnya jernih kehijau-hijauan karena dangkal. Eksklusif banget yah... bagian dalam resto pun penataannya tak kalah cantik
Kebayang gak ada taman hijau yang dibuat bersebelahan dengan putihnya pasir pantai... Gak perlu ke Bali untuk nikmati tempat indah ini... LOL
Calon adik ipar udah wanti-wanti dari awal, "kudu sabar ya mbak". Keinginanku untuk menggelar pesta outdoor di restoran tepi pantai ditentang habis-habisan, alasannya jauh... Off course... pastilah jauh. Kalo ditengah kota mana ada pantai yang masih cantik? Padahal menurutku pesta outdoor lebih privat, lebih santai, kekeluargaan lebih terjalin, lebih hemat sewa gedung dan dekorasi.
Ya sabarlah... terpaksa melakoni pesta pernikahan yang mainstream. Di dalam gedung, duduk berdiri nyalami tamu. Lenyaplah impianku untuk nikah di tepi laut yang indah ini.
Yang atap merah itu restonya, anjungan ini sengaja dibuat menuju ke laut. Lautnya jernih kehijau-hijauan karena dangkal. Eksklusif banget yah... bagian dalam resto pun penataannya tak kalah cantik
Kebayang gak ada taman hijau yang dibuat bersebelahan dengan putihnya pasir pantai... Gak perlu ke Bali untuk nikmati tempat indah ini... LOL
Jumat, 12 Februari 2016
Punya Rumah Minimalis
Setelah empat tahun bekerja dan punya sedikit tabungan, saya pun mulai berfikir akan diapakan tabungan ini. Mau dibuat usaha, sepertinya saya tidak akan punya waktu untuk mengurusinya, pekerjaan saya benar-benar menghabiskan waktu, selain itu saya sangat takut mencoba karena sama sekali tidak punya pengalaman.
Akhirnya saya pun memutuskan untuk membeli rumah. Awalnya teman-teman menertawai keinginan saya ini. Saya perempuan yang masih single.
"Kenapa repot-repot beli rumah, toh kamu belum nikah, uangmu bisa ditabung saja..."
"Kamu kan perempuan, harusnya suami donk yang beli rumah...", kira-kira seperti itu komentar mereka. Tapi saya nekat saja toh rumah atau tanah bisa jadi asset yang nilainya tidak turun.
Tabungan saya cukup untuk dijadikan DP pembelian perumahan type 36 di kota saya. Harga rumah persatuannya dilokasi yg masih dalam radius 5km dari pusat kota berkisar antara 240juta-300juta tergantung lokasinya. Yang paling murah 110juta, perumahan yang DP dan bunganya disubsidi pemerintah. Tapi letaknya, minta ampun jauhnya, saya jadi enggan membeli.
Karena saya bekerja di perbankan, salah satu rumah murah yang jadi sasaran perburuan saya adalah rumah-rumah yang akan dilelang. Ada cukup banyak, dan biasanya rumah lelang harganya lebih murah. Tapi tata ruangannya tidak ada yang sesuai keinginan. Rata-rata rumah itu tidak memiliki sisa halaman, atau halamannya terlalu kecil. Mungkin yang punya rumah tidak kepikiran untuk membeli mobil, atau membuat taman.
Rumah ideal dalam benak saya adalah rumah yang masih memiliki halaman, dengan taman dengan kolam ikan dan air mancur kecil. Ukurannya tidak perlu terlalu luas, karena saya tipe orang yang malas. Malas ngepel... malas nyapu... Nanti rumahnya malah tidak terurus.
Akhirnya saya menemukan rumah ideal saya itu. Meskipun bentuknya tidak secantik harapan. Tapi pengaturan ruangannya sesuai dengan keinginan saya. Terlebih lagi, rumah type 36/70 ini masih punya sisa halaman depan seluas 3x10m. Lumayan kan....
Akhirnya saya pun memutuskan untuk membeli rumah. Awalnya teman-teman menertawai keinginan saya ini. Saya perempuan yang masih single.
"Kenapa repot-repot beli rumah, toh kamu belum nikah, uangmu bisa ditabung saja..."
"Kamu kan perempuan, harusnya suami donk yang beli rumah...", kira-kira seperti itu komentar mereka. Tapi saya nekat saja toh rumah atau tanah bisa jadi asset yang nilainya tidak turun.
Tabungan saya cukup untuk dijadikan DP pembelian perumahan type 36 di kota saya. Harga rumah persatuannya dilokasi yg masih dalam radius 5km dari pusat kota berkisar antara 240juta-300juta tergantung lokasinya. Yang paling murah 110juta, perumahan yang DP dan bunganya disubsidi pemerintah. Tapi letaknya, minta ampun jauhnya, saya jadi enggan membeli.
Karena saya bekerja di perbankan, salah satu rumah murah yang jadi sasaran perburuan saya adalah rumah-rumah yang akan dilelang. Ada cukup banyak, dan biasanya rumah lelang harganya lebih murah. Tapi tata ruangannya tidak ada yang sesuai keinginan. Rata-rata rumah itu tidak memiliki sisa halaman, atau halamannya terlalu kecil. Mungkin yang punya rumah tidak kepikiran untuk membeli mobil, atau membuat taman.
Rumah ideal dalam benak saya adalah rumah yang masih memiliki halaman, dengan taman dengan kolam ikan dan air mancur kecil. Ukurannya tidak perlu terlalu luas, karena saya tipe orang yang malas. Malas ngepel... malas nyapu... Nanti rumahnya malah tidak terurus.
Akhirnya saya menemukan rumah ideal saya itu. Meskipun bentuknya tidak secantik harapan. Tapi pengaturan ruangannya sesuai dengan keinginan saya. Terlebih lagi, rumah type 36/70 ini masih punya sisa halaman depan seluas 3x10m. Lumayan kan....
Langganan:
Postingan (Atom)

