Jumat, 12 Februari 2016

Punya Rumah Minimalis

Setelah empat tahun bekerja dan punya sedikit tabungan, saya pun mulai berfikir akan diapakan tabungan ini. Mau dibuat usaha, sepertinya saya tidak akan punya waktu untuk mengurusinya, pekerjaan saya benar-benar menghabiskan waktu, selain itu saya sangat takut mencoba karena sama sekali tidak punya pengalaman.

Akhirnya saya pun memutuskan untuk membeli rumah. Awalnya teman-teman menertawai keinginan saya ini. Saya perempuan yang masih single.
"Kenapa repot-repot beli rumah, toh kamu belum nikah, uangmu bisa ditabung saja..."
"Kamu kan perempuan, harusnya suami donk yang beli rumah...", kira-kira seperti itu komentar mereka. Tapi saya nekat saja toh rumah atau tanah bisa jadi asset yang nilainya tidak turun.

Tabungan saya cukup untuk dijadikan DP pembelian perumahan type 36 di kota saya. Harga rumah persatuannya dilokasi yg masih dalam radius 5km dari pusat kota berkisar antara 240juta-300juta tergantung lokasinya. Yang paling murah 110juta, perumahan yang DP dan bunganya disubsidi pemerintah. Tapi letaknya, minta ampun jauhnya, saya jadi enggan membeli.

Karena saya bekerja di perbankan, salah satu rumah murah yang jadi sasaran perburuan saya adalah rumah-rumah yang akan dilelang. Ada cukup banyak, dan biasanya rumah lelang harganya lebih murah. Tapi tata ruangannya tidak ada yang sesuai keinginan. Rata-rata rumah itu tidak memiliki sisa halaman, atau halamannya terlalu kecil. Mungkin yang punya rumah tidak kepikiran untuk membeli mobil, atau membuat taman.

Rumah ideal dalam benak saya adalah rumah yang masih memiliki halaman, dengan taman dengan kolam ikan dan air mancur kecil. Ukurannya tidak perlu terlalu luas, karena saya tipe orang yang malas. Malas ngepel... malas nyapu... Nanti rumahnya malah tidak terurus.

Akhirnya saya menemukan rumah ideal saya itu. Meskipun bentuknya tidak secantik harapan. Tapi pengaturan  ruangannya sesuai dengan keinginan saya. Terlebih lagi, rumah type 36/70 ini masih punya sisa halaman depan seluas 3x10m. Lumayan kan....